Minggu, 22 September 2013

Brem Kaget

Postingan terdahulu mungkin telah berbicara mengenai Manfaat Makan Brem naahh mungkin sekarang saatnya kita tahu

Bagaimana sih proses membuat brem..

Berapa lamanya membuat brem..

Apa bahan baku pembuatan brem..

Dimana kita dapat menemukan tempat pembuatan brem tersebut...

Dan.. bagaimana asal mula industri brem..

Proses pembuatan brem
  1. Beras ketan putih dibersihkan dengan air, kemudian dimasak hingga matang kurang lebih 1 jam. Setelah matang, didinginkan dan diberi ragi tape hingga merata, dibungkus plastik dan biarkan selama satu minggu (7 hari) 
  2. Tape dipres/diperas untuk diambil sari tapenya. Dalam hal ini tape dilakukan pemerasan sebanyak dua kali.
  3. Sari tape hasil perasan direbus hingga mendidih sambil diaduk-aduk sampai agak kental. Kemudian dituangkan ke dalam mixer (mesin pengaduk) selama 30 menit dan ditambahkan bahan tambahan pangan berupa soda kue dan perisa yang dikehendaki. 
  4. Adonan yang telah jadi dituang ke atas meja cetakan dan diratakan. Kemudian didiamkan hingga kering/agak lembab.
  5. Adonan yang sudah agak lembab atau bisa dipotong, maka dipotong-potong sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan. 
  6. Hasil brem yang telah dipotong kemudian dijemur di bawah terik matahari hingga benar-benar kering.
  7. Brem diangkat dari tempat penjemuran, dan brem siap dikemas.

penggodogan sari tape
proses mixing


proses perataan brem
penjemuran



Dimana sih kita dapat menemukan sentra industri brem.....

Brem Suling Gading

Yess..sentra industri brem ini terletak di Desa Kaliabu, Kec. Mejayan, Kabupaten Madiun. Saat ini di desa Kaliabu terdapat kurang lebih 50 unit usaha brem. dengan luas desa 509,603 ha dan mempunyai jumlah  penduduk 4.329 jiwa.

Industri kecil brem di desa Kaliabu ini awalnya merupakan warisan turun-temurun dari nenek moyang di desa Kaliabu. Pada tahun 1985 industri ini mulai Nampak perkembangannya, yang diawali oleh industri kecil brem yang bernama Suling Gading (kemudian berubah nama menjadi Tongkat Mas). Pada tahun 1987 mulai bermunculan pengusaha-penguasaha industri kecil brem di desa tersebut. Namun karena terdapat  kendala terutama di bidang pemasaran sehingga industri ini pasang surut perkembangannya, hal ini disebabkan oleh belum memadainya kualitas produk juga promosi yang belum maksimal, sehingga industri ini belum bisa berjalan dengan lancar.

Model Brem
Brem dikemas dalam bentuk kotak dengan ukuran :
·         10,5 x 18,5 cm dengan berat 400 gr
·         7 x 19 cm dengan berat 230 gr
·         7 x 19,5 cm dengan berat 180 gr
·         7 x 19,5 cm dengan berat 110 gr
·         9,5 x 14 cm dengan berat 200 gr
   
Kalo ditanya, mungkin saya akan menyarankan untuk model brem yang digunakan saat ini untuk dapat diperbaharui dengan macam-macam model yang baru, yang lebih unik, lebih mungil, lebih inovatif, karena pada dasarnya kan orang memakan brem pasti tidak akan dapat menghabiskan satu keping brem sekaligus, ya keculi orang itu doyan gilak sama brem. heheehe. misal seperti bentuk binatang, buah-buahan, dan lain sebagainya.
Mungkin dapat juga dibuat inovasi baru dengan konsep "brem kaget" dimana saat orang gigit brem maka akan terkejut karena isi di dalamnya. Untuk isi yang digunakan bisa menyesuaikan tren atau pun pengamatan terhadap selera konsumen. misal dengan isi coklat leleh, isi jahe, isi cabe , dsb.

 Bagaimana.. apa pengusaha brem tertarik untuk mencobanya..?
Siapa tahu dengan inovasi baru dapat melejitkan profit. Siapa tahu dengan brem kaget dapat menciptakan prestasi baru.. Ya siapa tahuu.. hihihi.




0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More